- Kumpulan Video Motivasi (Nutrition for Soul) - Film Sejarah Pornoghrapi & Valentine - Film The Arrivals (Penelitian ilmiah, tentang kedatangan dajjal dan imam mahdi yang sudah dekat) - Uneh (Unik n Aneh) - Film Nafas Terakhir - OVA Rurouni Kenshin - OVA NAruto Shippuden - Tutorial Software (Photoshop, Corel, Webhosting, google adsense, jomlaa dll)
CD mp3 :
- nasyid - OST anime - cerita motivasi
CD kumpulan tugas kuliah, referensi, ratusan judul KTI dari internet dari semester 1-6 (khusus untuk kesling)
Lingkungan sehat, rakyat sehat adalah tema peringatan hari kesehatan nasional tahun lalu yang jatuh pada tanggal 12 November 2009. Hari kesehatan nasional ke 45 yang diperingati bangsa Indonesia sejak tahun 1964 ini adalah wujud optimisme bangsa Indonesia dalam menuntaskan pembangunan di bidang kesehatan. Peristiwa yang mendasari lahirnya hari kesehatan nasional ini adalah pada saat pemerintah dan rakyat Indonesia bekerja sama. Diwarnai dengan semangat kebersamaan dan kegigihan berhasil menuntaskan program pemberantasan penyakit malaria di Indonesia.
Terdapat makna yang kritis dan esensi yang mendalam yang terkandung dalam kalimat tema peringatan hari kesehatan nasional ke 45. Kalimat lingkungan sehat, rakyat sehat menggambarkan paradigma pembangunan kesehatan yang sudah mengarah pada bidang preventif atau pencegahan dan promotif atau penyuluhan. Solusi dari segudang permasalahan kesehatan di Indonesia yang sudah sedemikian kompleks ini adalah dengan dengan usaha-usaha preventif . Karena usaha-usaha kuratif atau pengobatan yang selama ini dilakukan dengan output program berobat gratis atau penurunan harga obat, tidak sanggup mencapai nilai efektifitas hingga 100% dalam menuntaskan permasalahan kesehatan di negeri kita. Mencegah lebih baik, lebih mudah, dan lebih murah daripada mengobati. Data penelitian WHO menyebutkan bahwa 1 US Dolar yang kita investasikan untuk membangun lingkungan yang saniter, bebas dari segala agen penyakit, akan mendatangkan income atau pemasukkan sebesar 8 US Dolar ke kas negara. Lingkungan adalah basis dari berbagai permasalahan kesehatan, HL Bloom dalam teorinya menyebutkan ada 4 faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan seseorang antara lain lingkungan, pendidikan, genetik dan pelayanan kesehatan. Lingkungan memegang peranan paling penting dengan persentase sebesar 45%. Percuma saja seandainya kita memberantas wabah DHF (Dengue High Fever) atau demam berdarah dengan program berobat gratis. Sedangkan sanitasi lingkungan tempat perkembangbiakan larva aedes aegepty nya tidak kita perbaiki sanitasi, serta masyarakatnya pun tidak kita edukasi agar paham tentang segala seluk beluk penyakit DHF. Sehingga tidak timbul kesadaran, semangat dan motivasi masyarakat untuk memperbaiki sanitasi lingkungan sekitar rumahnya. Jika hal ini terjadi dan diikuti dengan kondisi sanitasi lingkungan yang tidak diperbaiki, atau bahkan semakin parah. Maka penyakit DHF ini akan terus timbul dan menimbulkan penurunan Umur Harapan Hidup (UHH). Program Preventif dan promotiv ini tidak hanya berlaku untuk penyakit DHF saja tapi juga untuk penyakit lain, khususnya penyakit-penyakit yang berbasis lingkungan. Mari kita dukung program-program pemerintah yang bertujuan menciptakan kondisi lingkungan yang saniter, dengan kita ikut berpartisipasi dan berkontribusi di dalamnya.
Sanitasi adalah salah satu motor utama penggerak kesehatan masyarakat, kualitas sanitasi berbanding lurus dengan kualitas kesehatan masyarakat. Menurut Departemen Kesehatan, dari 1000 bayi lahir 50 diantaranya meninggal dunia karena diare. Kasus ini terkait dengan suplai air bersih yang terkontaminasi oleh bakteri e-coli dari tinja. Suplai air bersih yang lebih baik mampu menurunkan angka kematian sampai 21%, sedangkan sanitasi yang lebih baik terbukti mampu menurunkan angka kematian sampai 37,5%. Tindakan sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun sebelum makan , mampu menurunkan angka kematian sampai dengan 35%.
Walaupun demikian, sanitasi tetaplah menjadi prioritas rendah dengan anggaran yang minim di negara kita. Hal ini terutama karena manfaat langsung yang dirasakan lebih minim daripada manfaat invetasi dalam bentuk pembangunan jalan, pusat perbelanjaan, sekolah dan bangunan. Padahal menurut data valid hasil penelitian WHO, 1 US dollar yang di investasikan untuk sanitasi akan mendatangkan pemasukan ke kas negara atau pemerintahan daerah sebesar 8 US dollar. Data sampai tahun 2006, selama kurun waktu 30 tahun terakhir ini Indonesia hanya mengalokasikan dana Rp 200 per kapita untuk kebutuhan sanitasi warganya. Padahal idealnya, khusus untuk kebutuhan perkotaan harus menyediakan anggaran Rp 47.000 per kapita untuk mencukupi kebutuhan sanitasi warga. Semoga di era pemerintahan yang baru ini, pemerintah mengalokasikan dana yang yang lebih untuk meningkatkan kualitas sanitasi di negara kita, mengingat kesehatan adalah salah satu investasi utama kemajuan negara kita dengan sanitasi sebagai motor penggerak utamanya. Jika kita melihat sanitasi dengan sudut pandang yang luas, seakan akan kita sedang melihat sebuah fenomena gunung es. Secara sekilas terlihat kecil dan tidak menarik perhataian, padahal di bawahnya memiliki pengaruh yang besar namun sulit untuk terlihat.
Aku rindu pada zaman itu
ketika halaqah adalah kebutuhan, bukan hiburan apalagi sambilan
Aku rindu pada zaman itu
ketika membina adalah kewajiban, bukan pilihan apalagi beban yang memberatkan
Aku rindu pada zaman itu
ketika dauroh menjadi kebiasaan, bukan sekedar pelengkap program yang dipaksakan
Aku rindu pada zaman itu
ketika mengisi dauroh di puncak, dengan ongkos ngepas dan peta tak jelas
Aku rindu pada zaman itu
ketika tsiqoh mejadi kekuatan, bukan keraguan apalagi kecurigaan
Aku rindu pada zaman itu
ketika nasihat mejadi kesenangan, bukan suudzon dan menjatuhkan
Aku rindu pada zaman itu
ketika hadir di liqo aadalah kerinduan, bukan agenda yang membosankan
Aku rindu pada zaman itu
ketika terlambat di liqo adalah kelalaian, bukan kebiasaan yang tak ada kesan
Aku rindu pada zaman itu
ketika hadir di liqo selalu membawa Qur'an terjemahan dan sedikit hapalan
Aku rindu pada zaman itu
ketika tengah malam pintu diketuk untuk mendapat berita dan kumpul subuh harinya
Aku rindu pada zaman itu
ketika akhwat dan ikhwan berpapasan, saling menunduk dan menjauh
Aku rindu pada zaman itu
ketika para akhwat keluar dari sekolah karena jilbab-jilbab mereka
Aku rindu pada zaman itu
ketika seorang akhwat kabur dari rumah ketika akan walimah, karena
takut akan ikhtilat di hari pestanya
Aku rindu pada zaman itu
ketika tarbiyah adalah pengorbanan, bukan tuntutan apalagi hujatan
Aku rindu pada zaman itu
ketika amar adalah ketaatan, bukan perbincangan dan pelecehan
Aku rindu pada zaman itu
ketika para ikhwah sangat ketat menjaga pandangan
Aku rindu pada zaman itu
ketika kampus benar-benar markas halaqah aktivis
Aku rindu pada zaman itu
ketika nasyid ghuroba menjadi lagu kebangsaan
Aku rindu....... ..
Ya Allah....... . jangan Kau buang kenikmatan berda'wah dari hati-hati ini
Ya Allah....... . jangan Kau hilangkan keasyikan berjamaah dalam hidup ini
(buat jiwa-jiwa yang futur)
Abu Syahid Abu Faris
Azsya
Untuk para mujahid mujahidah mentor, murabbi dimanapun. Jangan pernah
berhenti bergerak…ini langkah kita. Cita-cita besar kita menanti lebih
dari sekedar jihad lisan kita, tapi jihad amal kita. Maka kuatkan
azimah kita ya ikhwati fillah, genderang jihad ini takkan berhenti
berkumandang… .